| | | | | | | |
Jum'at, 18 April 2014  
DariRiau.com / Hukrim / Nyala Pelita dari Balik Tembok

Bagian Pertama dari Dua Tulisan
Nyala Pelita dari Balik Tembok


Minggu, 29/09/2013 - 19:25:09 WIB
Kegiatan anggota Gerakan Pramuka di Lapas Anak Pekanbaru
TERKAIT:
Meskipun jauh dari keramaian dunia luar, terisolasi secara fisik, tak mengurangi semangatnya untuk berprestasi. Sudah lama ia melupakan peristiwa hukum yang membuatnya mendekan di penjara. Pramukalah inspirasinya.  

SEORANG anak yang beranjak remaja sibuk menyeka keringat dari atap dahi, ketika ia harus bolak balik di sebuah dapur umum. Sekujur tubuhnya mandi keringat. Tapi sedikit pun tak menunjukkan raut keletihan ketika ia harus menunggu seperiuk nasi yang hampir matang. Ya, subuh itu ia diberi tanggungjawab untuk memberi makan teman-temannya yang masih berkelung di bilik masing-masing. Karena ia diberi amanah, agaknya tugas itu ia lakukan dengan sepenuh hati. Dan tugas tersebut telah dilakoninya dalam kurun waktu 2013.  

Hendra (bukan nama sebenarnya), merupakan satu dari sekian narapidana remaja yang kini masih mendekam di Lapas Anak Kelas II B Pekanbaru. Kasus hukum yang membelitnya membuat ia harus menerima vonis berat tersebut dengan pasrah. Sebuah vonis yang tidak seharusnya ia terima di usia belia tersebut. "Ya, saya berharap terus mendapatkan keringanan hukuman yang saya terima Kak," kata Hendra pada satu pagi mendekati awal Agustus 2013 di Pojok Curhat yang bertempat di ruangan Kasubsi Perawatan Lapas Anak Kelas II B tersebut.

Hendra tetap bersemangat untuk menunjukkan sikap positif dan menunjukkan itikad baik untuk berubah. Terutama di mata petugas sipir penjara, untuk mendapatkan keringanan hukuman dari Kalapas. Makanya dalam tahun 2013 akhir ini ia ditunjuk menjadi Tamping atau tahanan pendamping. Jadi koki di dapur, menyiapkan sarapan pagi minimal untuk teman-temannya. Posisi yang merupakan posisi yang diberikan bagi tahanan atau narapidana senior yang sudah menunjukkan perubahan sikap dan perilaku baik, seperti Tamping untuk dapur. "Meski di dapur, saya senang kok Kak. Bisa berbagi dengan kawan-kawan lain, saya juga bisa pintar masak, minimal masak nasi," sambil tersenyum.

Pak Danu pemilik nama lengkap Sunu Istiqomah Danu, SPsi, Psi, sebagai Kasubsi Perawatan yang juga duduk berdampingan dengan Hendra pada hari itu juga ikut tersenyum berbarengan. Bagi psikolog muda dari Lapas Anak Kelas II B itu, Hendra sebagai Tamping memang sudah merupakan program Lapas. Dengan maksud untuk memberikan pola didik yang positif bagi tahanan dan narapidana.

Memang, ketika ditanya soal minatnya terhadap Pramuka, Hendra tak banyak komentar. "Lihat nanti aja Kak, sekarang belum kepikiran untuk bergabung," komentarnya pendek.

Sejak diresmikannya Gugus Depan di Lapas Anak Kelas II B tersebut, besar harapan segenap jajaran Lapas untuk memberikan terapi edukasi positif bagi tahanan dan napi. Terlebih lagi Kalapas. Hal itu juga yang dikatakan Danu. "Ya, kita di Sub perawatan ini memang menyiapkan strategi komunikasi yang khusus untuk memberikan terapi pada tahanan maupun napi. Dengan harapan mampu memberikan semangat pada mereka. Biar kelak optimis untuk berubah menjadi generasi yang lebih baik," ungkap Danu dengan yakin.

Selain Pojok Curhat yang merupakan program berkala dari Sub perawatan, ada dua program lagi yang tengah dijalankan yaitu Konsuling Pribadi dan Kegiatan Spiritual. Ketiga pola strategi komunikasi inilah yang menurut Danu potensial dalam membina karakter para tahanan dan napi yang masih relative muda tersebut. Pramuka dalam hal ini punya peranan penting sebagai wadah pengembangan karakter tersebut. Psikolog yang juga merangkap sebagai Koordinator Kerohanian Lapas Anak tersebut meyakini Pramuka merupakan wadah mediasi yang punya faktor perubah penting.

"Dengan Pramuka kita sama-sama berharap, mereka mampu melupakan masa lalunya yang kelam. Dan memulai pembinaan karakter menjadi Pramuka yang siap di tengah keluarga dan di tengah-tengah masyarakat," yakin lelaki kelahiran 1976 tersebut.
Seperti yang kembali dikatakan Danu, Pramuka akan semakin kuat dengan dukungan Pojok Curhat. Karena kerjasama ini bukan hanya dilakukan oleh Lapas Anak Kelas II B sendiri, tapi juga merupakan kerjasama dengan pihak ketiga. Seperti dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Ibarat Dian yan tak kunjung padam. Begitulah kondisi Hendra dan kawan-kawannya di dalam Lapas Anak. Tetap punya semangat untuk menjadi lebih baik, setelah melakukan suatu kesalahan.

Memang masih banyak yang belum seberuntung Hendra yang sudah mulai menemukan jati dirinya dari balik tembok penjara. Masih ada beberapa anak lain yang menanti masa depannya kelak. Tercatat 205 tahanan/ napi anak dan wanita, dengan distribusi 77 anak laki-laki, 1 orang wanita, dan 126 tahanan wanita dewasa yang menjadi penghuni Lapas Anak kelas II B. Rata-rata dari mereka terbelit kasus hukum yang berat.


Toni misalnya (nama disamarkan) terbelit kasus geng motor 'Klewang' yang kasuistik. Ia terseret karena bujuk rayu dan iming-iming uang oleh Sang Gembong Klewang yang kini masih mendekam di penjara Polri. Di penghujung malam, di tengah tahanan anak yang masih terlelap, Toni sering bangun duduk termenung. Seperti terbangun dari mimpi buruk. Ketika ditemui di lapangan, ia menunjukkan sikap protektif. "Iya, Toni belum bisa menerima kenyataan kalau ia berada di dalam penjara. Tapi hal itu bukan saja terjadi pada Toni, banyak remaja lainnya yang punya kondisi seperti Toni," tutur Danu kembali menjelaskan.

Untuk menyiasati kondisi seperti itu, Danu sebagai psikolog bersama timnya melakukan conselling pribadi pada para tahanan dan narapidana anak. Terdiri dari 2 orang dokter umum yang ditempatkan di Lapas, ditambah 3 orang perawat. Pak Danu sendiri sebagai 'kepala rombongan' kerap keliling malam di saat piket. Untuk melihat situasi dan kondisi psikis anak. Salah satunya yang dilakukan Toni. Karena yang menjadi musuh besar tahanan dan narapidana anak ini adalah penyesuaian diri dan menemukan pola hidup baru.

"Untuk memuluskan strategi tadi, makanya kita lakukan dengan Focus Group. Ada juga sosio drama untuk membangun karakter positif bagi mereka," sebut Danu yang merupakan lulusan UNS Solo tahun 1999 ini. Sebagai seorang psikolog, Danu juga telah mendalami dunia pedagogic ketika ia masih tercatat sebagai dosen di UIN Suska Pekanbaru di tahun 2002. Baru di tahun 2003, ia ditempatkan di Bapas Pekanbaru. Sejak 2012 ia pun bergabung di Lapas Anak Kelas II B Pekanbaru. Jadi memang pekerjaan rumah yang banyak ketika ia harus memimpin tim untuk membangkitkan kembali kepercayaan diri yang hilang dari tahanan di Lapas Anak.

Sebagaimana yang dituturkan Danu lagi, dari tahun 2012 hingga tahun 2013 ada 80 persen perbuatan hukum yang dilakukan para tahanan maupun narapidana di Lapas Anak Kelas II B Pekanbaru merupakan pelecehan seksual. Selebihnya perbuatan hukum yang lain, termasuk geng motor di bawah pimpinan Klewang. Makanya salah satu strategi spiritual bagi anak dengan melakukan pengajian dalam bentuk TPA sebanyak 3x1 minggu, ditambah ceramah agama, dan sholat berjamaah. "Untuk menambah sentuhan yang lebih aktiv, kita mengundang ustadz dari MDI dan organisasi lain," tambah Danu.

Itu progress yang dilakukan dari aspek psikis dan kerohanian. Dari aspek fisik Sub perawatan di bawah komando Pak Danu, Pramuka menjadi andalan. "Saya yakin dengan kegiatan Pramuka, anak-anak bertambah aktiv untuk mengisi aktivitas positifnya. Setidaknya ia makin percaya diri, dan melatih mentalnya. Dapat lebih kreatif, mempunyai jiwa kepemimpinan, dan jiwa pantang menyerah," yakin Danu.

Selaras dengan keyakinan Pak Danu, Kalapas Anak yang baru sertijab, Mukhtar, Bc.IP, Sag, MH, merasakan kegiatan Pramuka bernilai positif, terutama mengembalikan kepercayaan diri pada tahanan maupun narapidana. "Kita akan teruskan rintisan yang sudah dilakukan oleh Pak Agus. Semangatnya membangun kembali Gugus Depan 071-072 ini. Tim sub perawatan di sini akan menjadi wakil kami dalam mengkoordinir kegiatan psikis, sementara untuk kegiatan fisiknya kita sudah dibantu oleh Kwarda Provinsi Riau dengan menempatkan Pembina di sini," ujar lelaki asal Pindrang, Sulawesi Selatan ini ketika ditemui di meja kerjanya, di lain waktu.

Bagi pria paruh baya alumni AKIP Jakarta angkatan 1989 ini, kegiatan Pramuka merupakan wadah yang tepat untuk pengembangan kreativitas anak. Apalagi sejak ia bertugas sebagai staf Lapas dewasa selama 8 tahun di Kabupaten Polewali Sulawesi Barat, sebagai Kasubsi pelayanan tahanan di Rutan Pindrang selama 5 tahun, sebagai Kasi pelayanan tahanan di Rutan Kelas I Makasar selama 2 tahun, hingga ditempatkan sebagai Kalapas Anak Kelas II B Pekanbaru, Pramuka senantiasa memberikan sumbangsih penting dalam menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian para tahanan dan narapidana.

"Berdasarkan pengalaman sebelumnya, saya kira Pramuka memang tepat untuk pembinaan karakter ini. Apalagi Pramuka ini kan padat kegiatan, sehingga anak-anak bisa berangsur-angsur melupakan perbuatan masa lalunya. Sehingga mereka lebih fokus dengan kegiatan bermanfaat. Pramuka salah satunya kan," yakin bapak tiga anak penyuka olah raga tenis ini mengakhiri pembicaraan. (bersambung)***

>>
Penulis:
M. Joni Paslah dan Ajis Putra
(0) Komentar

[ Kirim Komentar ]
Nama
Email
Komentar



(*Masukkan 6 kode diatas)

 
| | | | | | | |
| Redaksi | Info Iklan |
Copyright 2012 DariRiau.Com, All Rights Reserved