| | | | | | |
Rabu, 26 Juni 2019  
DariRiau.com / Otonomi / Ponton Pengangkut Material Tutupi Sungai di Lubuk Muda, Warga Resah

Ponton Pengangkut Material Tutupi Sungai di Lubuk Muda, Warga Resah


Selasa, 28/05/2019 - 20:51:32 WIB

DARIRIAU.COM - Warga yang selama menggunakan anak sungai Siak Kecil, Desa Lubuk Muda, Kecamatan Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau dalam kesehariannya mulai resah.

Pasalnya selain merusak lingkungan sekitar, kapal ponton bermuatan material proyek milik kontraktor besar asal Bengkalis berinisial M, yang masuk ke anak sungai menuju pelabuhan tikus, telah menutupi anak sungai yang lebarnya 100 meter tersebut.

Pantauan pada Selasa (28/5/2019) pagi, kapal ponton yang memiliki muatan seberat 2.800 ton sedang bersandar dan melintang hingga menutup lebar sungai. Ternyata pelabuhan tikus itu sudah selalu melakukan aktifitas bongkar muatnya di anak sungai tersebut. Bahkan menurut warga sekitar kehadiran pelabuhan tikus itu memang sangat merugikan masyarakat sekitar.

Atan, warga sekitar, ketika ditemui di lokasi pelabuhan tikus Jalan Hang Tuah samping SDN 01, Desa Lubuk Muda- Siak Kecil tersebut mengaku sudah lebih dari tiga kali selama bulan Ramadan.

Menurut Atan, barang yang di bawa kapal ponton kebanyakan adalah material karena sang pemilik pelabuhan tikus juga M, yang memang banyak mendapat orderan proyek dari Pemkab Bengkalis. Salah satunya yang sedang jalan menurut Atan adalah proyek pembangunan di Sei Linau bekas proyek MY Bukitbatu-Siak Kecil.

"Sering masuk kapal Ponton bawa material. Yang punya ini kontraktor. Sering dapat proyek dari pemerintah. Sekarang lagi jalankan proyek di Sei Linau, bekas proyek MY Bukitbatu-Siak Kecil," ujar Atan.

Masih menurut Atan akibat sering melakukan aktifitas, akibat yang ditimbulkan sangat banyak, salah satunya adalah rusaknya ekosistem tanaman mangrove di sekitar pelabuhan. Tak hanya itu ikan pun pasti akan lari karena besarnya kapal yang sekali merapat langsung menutup badan sungai sehingga masyarakat sekitar pun sulit melintasi sungai tersebut.

"Selain mangrove, nelayan pun kena imbas. Payah kita mau lewat sungai itu lagi karena tertutup ponton yang melintang,'' pungkas Atan.

Manulang selaku, Kepala Seksi (Kasi Lalu Lintas) KSOP Kelas II Sei Pakning ketika dikonfirmasi tentang izin pelabuhan tikus tersebut enggan berkomentar ia mengaku saat itu sedang ada operasi bongkar muat dan akan berjanji menghubungi kembali.

"Apa Izin..?...Mohon maaf pak saya lagi giat bongkar muat. Nanti saya hubungi lagi ya," ujarnya.

Begitu juga Embing selaku Kasi Keselamatan Berlayar KSOP Kelas II Sei Pakning ia langsung mengaku lagi di luar kota dan akan menyuruh anggota untuk mengecek langsung.

"Waduh saya lagi di luar kota ini. Saya suruh anggota saya dulu mengecek ke lapangan," pungkas Embing.

Harus Turun Tangan

Sementara itu menurut Ketua Tim Rona Lingkungan Universitas Riau Tengku Ariful Amri saat dimintai komentarnya terkait keberadaan pelabuhan tikus ini mengaku sangat prihatin dan meminta agar pemerintah bisa melakukan pengawasan yang lebih ketat lagi dan turun ke lokasi.

Karena dari apa yang sudah dipaparkan memang sepertinya sudah keluar dari kepatutan. Karena Sungai yang hanya memiliki lebar 100 Meter memiliki pelabuhan yang menampung kapal ponton yang memiliki muatan hingga 2800 ton hingga lebih.

"Kata kuncinya pemerintah harus peka terhadap masalah ini. Kita minta lah baik dari aparat terkait dan aktifis lingkungan agar bisa turun. Biar masalah terselesaikan dan masyarakat pun ada solusi dan semua pihak tidak merasa terganggu lagi,'' pungkas salah satu Dosen senior di Universitas Riau ini.



| | | | | | | |
Redaksi
Copyright © PT. INSPIRASI DARI RIAU, All Rights Reserved - (2012-2015)